Bias pendidikan: Stigma masyarakat dan konstruksi sosial?
Source: Pinterest @slinetworks
Bicara tentang pendidikan, tentu tidak terlepas dari banyaknya kendala dan masalah
baik dari segi proses maupun hasil dari pendidikan itu sendiri. Ujian nasional
dan kebocoran soal, kurikulum yang terus-menerus berganti dan problematik,
kualitas guru yang dinilai belum mampu menyokong seluruh siswa, motivasi siswa
dan banyaknya anak putus sekolah, infrastruktur dan ketidakmerataan pendidikan,
serta lain sebagainya masih menjadi PR besar bagi pemerintah Indonesia hingga
detik ini. Namun, terlepas dari semua polemik diatas, apa sebenarnya masalah
terbesar yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia?
Masih terngiang dengan jelas reaksi beberapa teman dan keluarga terhadap pilihan jurusan saya
sewaktu masih duduk dikelas 12 SMA. “Mau ambil jurusan apa nanti di kuliah?” Lalu saya dengan bangga menjawab
“Pendidikan bahasa Inggris”, tentu respon yang saya terima pun beragam, ada
beberapa yang hanya berujar “oh” yang seakan menyuarakan “ah jurusan itu doang
ternyata” adapula beberapa yang mendukung, tak sedikit yang mencibir. Situasi
nya tentu akan jauh berbeda jika saya menjawab bahwa saya akan memilih jurusan
kedokteran, atau teknik, atau institusi
pemerintahan (ikatan dinas). Tentu dahi-dahi yang berkerut akan berkurang,
mungkin berganti dengan
dukungan dan antusiasme. Pertanyaannya adalah, mengapa?
Tentu kita semua sadar, hidup di sebuah negara berkembang
dengan tingkat pengangguran dan kemiskinan yang cukup tinggi menimbulkan
kecemasan tersendiri bagi setiap generasi muda yang tengah mengenyam
pendidikan. Kekhawatiran akan hal ini menyebabkan masyarakat menciptakan
sendiri standar pekerjaan yang dinilai “bergengsi” berdasarkan prospek kerja
dan pendapatannya, serta tingkat “kesulitan” suatu bidang tersebut. Dari
perspektif inilah kemudian timbul kecenderungan untuk memfavoritkan beberapa
bidang tertentu dan menganak-tirikan beberapa bidang ilmu lain. Parahnya,
fenomena ini sudah sangat berakar di Indonesia, bahkan menjadi tolak ukur
penentu posisi sosial seseorang di lingkungan sekitarnya. Siapa yang menjadi
korban dari situasi ini? Seniman, Sastrawan, beberapa orang yang bergerak
dibidang sosial-kemanusiaan, dan beberapa bidang lain yang kerap dianggap
“minor” dan kurang bergengsi di Indonesia.
Mengapa perspektif ini tidak boleh terus menerus dibiarkan? Atau
setidaknya harus diluruskan?
Karena hal ini meng-overshadow
pilihan individu seseorang, menimbulkan dilemma antara mengejar ambisi diri
atau memenuhi ekspektasi keluarga dan lingkungan sosial
Karena beberapa dari kita cenderung menjadi irasional dalam
menentukan apa yang benar-benar ingin kita lakukan dalam hidup
Karena ini merupakan sebuah bentuk ketidak-adilan dalam
konstruksi pendidikan, dimana beberapa bidang ilmu tidak dianggap benar-benar
penting
Karena hal ini berimbas pada bagaimana kita memperlakukan
orang lain dalam kehidupan bermasyarakat.
Apakah adil untuk menjudge bahwa anak bahasa bukan anak-anak
yang cerdas karena mereka tidak mempelajari kalkulus atau matematika dasar?
Apakah adil memberi stereotip bahwa jurusan seni tidak penting
dan tidak perlu dipelajari karena tidak menguntungkan?
Apakah adil untuk menyebut jurusan keguruan sebagai jurusan
yang kurang bergengsi karena nantinya hanya akan duduk disekolah dan mendidik
murid-murid?
Apakah adil berkata bahwa jurusan keolahragaan hanya main
fisik saja dan tidak perlu susah-susah berpikir?
Tidak ada yang salah dengan jurusan-jurusan tersebut, tidak
ada yang salah juga jika kamu yang sedang membaca tulisan ini mungkin
sebenarnya memiliki minat di salah satu bidang tersebut. Hanya karena sebuah
bidang ilmu tidak terkesan se-bergengsi jurusan lain di masyarakat, bukan berarti
ilmu tersebut mudah, atau tidak penting.
Bukankah pendidikan merupakan cerminan kehidupan manusia
yang dimana mencakup seluruh spektrum kehidupan manusia. Pendidikan sejatinya
adalah miniatur kehidupan, karena itulah pemerintah tetap (dan harus)
mengakomodasi jurusan-jurusan tertentu yang
bahkan kurang diminati, karena itu menjadi media aktualisasi diri yang
vital bagi mereka yang mencintai bidang tersebut, bagi mereka yang memiliki
passion yang kuat didalamnya.
Kita tidak tahu seberapa keras usaha seseorang, kita tidak
pernah bisa merasakan sakitnya jatuh bangun orang lain, kita tidak tahu
seberapa banyak kegagalan dan rintangan yang sudah mereka hadapi. Menghargai
tidak harus berarti bermulut manis dan berkata yang muluk-muluk, menghormati
pilihan orang lain dengan tidak memberikan perlakuan yang berbeda merupakan
bentuk menghargai yang harus mulai kita biasakan bahkan sejak anda mulai membaca
tulisan ini. Mungkin hal ini terkesan kecil, tapi tidak ada suatu perubahan
besar yang tidak dimulai oleh sesuatu yang kecil.
Semoga tulisan ini dapat
selalu menjadi pengingat bagi kita semua bahwa selalu ada alasan dan penyebab
dibalik sebuah tindakan dan pilihan.
C. Harmia
Yogyakarta, 14 September 2018

Komentar
Posting Komentar